|
JAJANAN FAVORIT SEPARUH RUMAHTANGGA DI INDONESIA MENGANDUNG ZAT BERBAHAYA (*) Oleh: Evelyn Suleeman dan Endang Sulastri (**) Pemakaian zat berbahaya dalam makanan-minuman yang dikonsumsi penduduk Indonesia menjadi berita yang menarik bagi media massa sejak beberapa tahun terakhir. Sejumlah zat berbahaya yang biasanya digunakan adalah formalin sebagai pengawet mayat untuk mengawetkan, boraks sebagai pengenyal makanan, MSG atau salisilat sintetis sebagai penambah rasa, Rhodamin B yang digunakan untuk mewarnai tekstil sebagai pewarna, sakarin dan siklamat sebagai pemanis buatan serta minyak goreng bekas atau minyak goreng yang dipakai berulang kali. Warna lebih menarik, rasa lebih menggugah selera dan yang paling penting adalah harga menjadi lebih terjangkau oleh masyarakat, khususnya masyarakat miskin, menjadi alasan yang sering dikemukakan oleh produsen makanan untuk tetap menggunakan zat berbahaya tersebut. Walaupun sudah banyak bahasan tentang berbahayanya zat-zat tersebut dalam makanan tetapi belum ada pembahasan seberapa banyak penduduk Indonesia yang kemungkinan besar mengonsumsi zat berbahaya melalui jajanan. Artikel ini menjawabnya dengan menggunakan data pembelian makanan-minuman jadi di Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) yang dikumpulkan setiap tahun oleh Badan Pusat Statistik di seluruh Indonesia. Sedangkan data yang lebih rinci tentang jenis jajan, diambil dari kuesioner Susenas khusus konsumsi tahun 2002. Jajan sebagai fenomena rumah tangga di Indonesia Jajan (membeli makanan-minuman jadi) banyak dilakukan orang Indonesia. Data Susenas memperlihatkan, selama tahun 1999-2004 sekitar 80% rumahtangga di Indonesia mengaku jajan. Bahkan selama kurun waktu itu prosentase pengeluaran rata-rata per kapita per bulan untuk jajan, meningkat dari 10.9% pada tahun 1999 menjadi 12.4% pada tahun 2004. Perilaku jajan lebih banyak ditemui di daerah perkotaan daripada di perdesaan. Pada tahun 2004 ada 90% rumahtangga di perkotaan yang jajan sementara di perdesaan hanya 78%. Jumlah yang jajan di kota besar lebih banyak lagi. Di 5 kota besar di Indonesia yaitu Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya dan Makassar, 95% rumahtangga mengaku membeli makanan-minuman jadi saat disurvei. Lebih banyaknya rumahtangga yang jajan di kota besar, tentu terkait dengan semakin sempitnya waktu bagi keluarga di kota besar untuk menyiapkan makanan-minuman sendiri. Sebab, meskipun masak bisa lebih murah dari segi uang dibanding jajan, tetapi masak sendiri membutuhkan lebih banyak waktu, tenaga dan pikiran. Memikirkan menu apa yang akan dimasak untuk satu hari mungkin mudah, tetapi bila itu terjadi tiap hari, tentu memusingkan. Apalagi bila suami maupun istri bekerja. Keinginan untuk jajan juga tidak terlaksana bila tidak ada yang menjualnya. Dari pengamatan, penjual makanan-minuman jadi memang lebih banyak ditemukan di daerah perkotaan daripada di perdesaan, sehingga tidak heran bila jajan lebih banyak dilakukan di perkotaan. Orang miskin sering dianggap lebih banyak jajan daripada orang yang tidak miskin. Anak balita juga sering dianggap lebih banyak jajan daripada bukan balita sehingga rumahtangga yang memiliki anak balita diduga lebih banyak jajan daripada rumahtangga yang tidak memiliki anak balita. Tetapi data Susenas 2004 tidak mendukung kedua anggapan tersebut. Memang mayoritas (70%) rumahtangga termiskin (kuintil 1) di Indonesia jajan, tetapi prosentasenya paling rendah dibandingkan dengan prosentase dari rumahtangga yang lebih sejahtera atau kuintil yang lebih tinggi. Semakin sejahtera sebuah rumahtangga atau semakin tinggi kuintil sebuah rumahtangga, semakin banyak yang jajan. Prosentase tertinggi ditemukan pada rumahtangga dari kuintil 5 (20% terkaya) yang mencapai 92%. Rumahtangga di kuintil 5 tidak hanya lebih banyak jajan, tetapi mereka juga mengeluarkan lebih banyak uang untuk jajan dibandingkan dengan rumahtangga dari kelas sosial ekonomi yang lebih rendah. Prosentase pengeluaran untuk jajan dari total pengeluaran untuk makanan di kalangan rumahtangga di kuintil 5 yang jajan sebesar 22%, sedangkan di kalangan rumahtangga di kuintil 1 hanya 10%. Susenas 2004 juga menunjukkan bahwa keberadaan balita dalam rumahtangga tidak mempengaruhi perilaku jajan dengan sedikitnya perbedaan rumahtangga yang jajan antara yang memiliki balita (86%) dan yang tidak memiliki balita (81%). Jajanan Favorit yang Berbahaya Dari 22 jenis jajanan yang ditanyakan dalam Susenas, gorengan adalah jajanan yang paling disukai di Indonesia. Data Susenas modul konsumsi 2002 menyebutkan gorengan dipilih oleh hampir separuh rumahtangga di Indonesia (49%). Jajanan lain yang disukai di Indonesia adalah mie (bakso/rebus/goreng) (45%) serta makanan ringan anak (39%). Dilihat dari daerah tempat tinggal, mie dan gorengan adalah jajanan favorit di daerah perkotaan. Lebih dari separuh rumahtangga di perkotaan membeli mie (58%) dan gorengan (54%). Sedangkan penduduk perdesaan memilih gorengan dan makanan ringan anak sebagai jajanan utama mereka. Gorengan dan makanan ringan masing-masing dipilih oleh 46% dan 38% rumah tangga di perdesaan. Walaupun mayoritas rumahtangga dari semua kelas sosial mengaku jajan, tetapi jenis jajan yang dikonsumsi mereka berbeda. Rumahtangga dari kuintil 5 menyukai mie (62%) dan gorengan (51%). Sementara itu, gorengan dan makanan ringan anak menjadi jajanan yang paling disukai rumahtangga di kuintil 1. Sekitar 2/5 dari mereka membeli gorengan (43%) dan makanan ringan anak (41%). Rumahtangga yang memiliki balita lebih banyak mengonsumsi makanan ringan anak (50%) daripada rumahtangga yang tidak memiliki balita (34%). Tiga jenis jajanan favorit ini ternyata besar kemungkinannya mengandung berbagai zat berbahaya seperti formalin dan boraks yang ditemukan pada tahu dan mie; zat pewarna dan pemanis buatan yang terdapat pada saos, sambal dan makanan ringan anak seperti snack dan permen; serta penggunaan minyak goreng bekas pada gorengan. Dalam jangka pendek, penggunaan MSG dalam jumlah banyak akan menimbulkan keluhan haus, pusing, dan mual. Sementara penggunaan zat-zat berbahaya lainnya dalam kurun waktu yang lama, dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit seperti kanker usus, hati, payudara, darah tinggi, dan jantung. Jadi Siapa yang Peduli ? Pengalaman di Indonesia menunjukkan bahwa zat berbahaya bagi makanan tidak digunakan hanya pada saat media massa masih menjadikannya sebagai berita utama. Tetapi setelah topik itu tidak lagi menjadi berita utama media, praktek berbahaya kembali dilakukan dengan alasan harga jauh lebih mahal bila harus menggantinya dengan zat lain. Selain itu, masih ada pasar yang mau mengonsumsi makanan-minuman berbahaya. Kenyataan ini menunjukkan banyak orang tidak peduli akan kesehatan mereka atau mereka sudah lupa akan adanya bahaya yang mengintai di dalam makanan-minuman yang mereka konsumsi sehari-hari. Bukankah sering disebutkan bahwa “people have short memory?” Tugas YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) lah sebagai lembaga yang berwenang untuk membela hak-hak konsumen, yang harus memberikan sosialisasi terus menerus tentang adanya bahaya dalam berbagai produk makanan-minuman. Sebab makanan yang mengandung zat berbahaya ternyata dikonsumsi oleh sekitar 40-50% rumahtangga di Indonesia. Selain YLKI, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) juga harus terus melakukan pengawasan terhadap penggunaan zat berbahaya pada makanan-minuman jadi. Tentu saja sosialisasi dan pengawasan YLKI bersama BPOM akan sia-sia bila penegakan hukum tidak dilaksanakan. Artinya, mereka yang terbukti masih terus menggunakan zat-zat berbahaya dalam makanan-minuman harus dihukum sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selama aturan hukum tidak diberlakukan secara tegas dan benar, praktek penggunaan zat-zat berbahaya pada makanan-minuman jadi tidak akan pernah berhenti dan tetap membahayakan sekitar separuh penduduk Indonesia. (*) Artikel ini juga dimuat di harian Suara Pembaharuan, 11 Juli 2006 (**) Evelyn Suleeman dan Endang Sulastri adalah peneliti di Insan Hitawasana Sejahtera
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |