|
Oleh: Evelyn Suleeman * Pelecehan dan kekerasan seksual merupakan salah satu topik yang selalu dibahas dalam ruang kuliah Sosiologi Keluarga sejak sepuluh tahun lalu, saat saya terlibat mengasuh mata kuliah tersebut. Walaupun sudah membaca berbagai buku teks, majalah, koran, menonton talk show Oprah, mendiskusikannya di ruang kelas, termasuk menulis artikel di media massa tentang kasus Monika Lewinsky dan Bill Clinton, rupanya rasa empati saya terhadap korban pelecehan dan atau kekerasan seksual terbilang masih kurang, sampai saya mengalaminya sendiri.
Sekarang saya sadar mengapa korban takut melapor, terutama bila pelaku pelecehan atau kekerasan adalah orang yang dikenal, apalagi sangat dihormati atau disegani. Bukankah Anda akan segan untuk berkata tidak pada mereka yang selama ini baik terhadap Anda bila ia meminta sesuatu, termasuk sesuatu yang sangat Anda tidak harapkan, karena keadaannya tidak memungkinkan Anda menolaknya? Bisa saja karena kejadian begitu cepat berlangsung hingga Anda tidak sempat berpikir jernih. Atau bisa juga karena orang itu begitu kuat mendesak hingga Anda tidak berdaya menolaknya. Akan makin sulit menolak kemauannya bila si pelaku dapat mengancam kehidupan Anda atau keluarga.
Berbagai kajian memperlihatkan, pelaku tindak pelecehan atau kekerasan seksual biasanya dikenal baik oleh korban dan sangat pandai memanipulasi keadaan, hingga sang korban umumnya tidak berdaya dan orang lain tidak percaya mendengar laporan korban. Itulah alasan mengapa banyak korban tidak mau melaporkan kasusnya
Terhadap Siapa pun
Tindak pelecehan, atau bahkan kekerasan seksual, sesungguhnya, dapat terjadi pada siapapun. Bahkan di negara maju, teman saya bercerita bagaimana seorang profesor di universitas terkenal di luar negeri mengalami trauma, dan harus “lari” ke Indonesia, karena perlakuan semacam itu. Yang lebih traumatis, ia mengalami dari rekan sesama pengajar yang justru sangat dihormatinya.
Pengalaman saya hampir serupa. Bapak X yang saya hormati dan dari segi usia pantas menjadi ayah saya, tinggal tidak jauh dari rumah saya dan selalu menyapa bila kami berpapasan. Dia juga selalu memberikan ucapan selamat pada hari raya keagamaan kepada keluarga kami yang berbeda iman dengannya.
Hal itu telah dilakukannya bertahun-tahun. Tentu hal ini makin menguatkan rasa hormat dan segan saya kepadanya. Persahabatan yang terjalin bertahun-tahun ini menyebabkan saya pun tidak punya perasaan curiga sedikit pun ketika dia mencium saya, saat saya mengucapkan selamat hari raya keagamaannya. Pikir saya, “Beliau ‘kan orangtua yang saya hormati.” Juga saya menganggap masih wajar, ketika beliau berkata, “Gantian dong. Cium saya.”
Namun peristiwa terakhir sungguh di luar dugaan saya. Saat saya berpapasan dengan beliau, tiba-tiba dia mengatakan ingin memberi ucapan selamat hari Valentine—sesuatu yang hanya ada di benak anak saya yang menginjak remaja, tetapi tidak pernah ada di benak orang seusia saya, apalagi seusia dia. Agak aneh permintaan kali ini. Apalagi, hari Valentine sudah lewat dua minggu saat kami bertemu. Walau saya sempat mengatakan “’Kan sudah lewat, pak”, dia tetap bersikeras. Saya mengikuti permintaannya, mendatanginya dan membiarkan ia mengucapkan selamat hari Valentine. Setelah kami saling mencium pipi, tiba-tiba dia merajuk, “Cium di bibir, dong.” Saya bertanya-tanya dalam hati apa maksudnya.
Merasa saya tidak melakukan apa yang dimintanya, sekali lagi ia berkata, “Cium bibir, ya.” Untungnya, pikiran saya masih jernih. Saya berkata dengan tegas, “Tidak boleh, pak,” dan cepat-cepat meninggalkannya. Sambil berjalan menuju tempat kerja, saya berkata dalam hati, “Tuhan, sekarang saya dapat memahami apa yang dirasakan oleh korban pelecehan dan kekerasan seksual, dan mengapa sulit sekali menangkap para pelakunya.”
Bila orang seperti saya yang cukup berpendidikan dapat mengalaminya, apalagi banyak perempuan lain yang tidak berdaya, bahkan tidak menyadari bahwa tingkah laku bapak tadi merupakan pelecehan seksual! Pengalaman singkat itu membuat saya trauma bertemu dengannya lagi.
Memupus trauma
Tindak pelecehan, apalagi kekerasan seksual, meninggalkan jejak trauma terhadap si korban yang acap kali membuatnya tak berdaya hingga seperti bisu, tidak berani melaporkannya. Apalagi bagi korban yang kehidupannya tergantung pada sang pelaku, seperti hubungan anak buah dan atasan, istri dan suami, anak perempuan dan ayah.
Setiap perempuan dapat menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual, karena itu, kaum perempuan perlu selalu waspada. Juga pada mereka yang dekat dan dikenal baik. Berbagai kajian memperlihatkan kebanyakan pelaku justru orang-orang yang dikenal baik oleh korban, bahkan mengetahui kehidupan sehari-hari korban.
Kewaspadaan penting, tetapi tidak cukup. Menurut saya, dibutuhkan keberanian untuk mendobrak kebisuan dan perasaan tidak berdaya yang dialami korban. Bila Anda menjadi korban, ceritakan tindak pelecehan dan atau kekerasan seksual yang Anda alami kepada orang lain seperti teman dekat, kerabat, atau lembaga bantuan yang menangani kasus tindak kekerasan rumah tangga. Bila perlu, laporkan kepada pihak polisi jika terjadi penganiayaan, dan minta pemeriksaan medis untuk bukti hukum. Keberanian seperti itu sangat penting agar tembok kebisuan dapat didobrak. Benar, orang sering merasa itu aib yang hanya akan memalukan diri dan keluarganya. Tetapi, dengan memberikan laporan, kita sudah membantu untuk mengurangi bertambahnya korban lain—termasuk oleh mereka yang dianggap jadi panutan atau teladan masyarakat. Oleh karena itu pula, kampanye tentang bahaya pelecehan dan kekerasan seksual harus selalu didengungkan, dan pendidikan kesadaran kritis mengenai apa yang harus diketahui dan disiapkan perempuan bila mengalaminya, serta keberanian untuk membongkar kebisuan. Begitu juga, orang lain perlu dididik untuk mampu berempati pada korban, tidak meremehkan kesaksiannya, mencari jalan keluar, bahkan kalau perlu memberi tempat perlindungan.
Selamat hari perempuan internasional!
*Penulis adalah staf pengajar di FISIP-UI dan peneliti pada IHS (Insan Hitawasana Sejahtera)
Only registered users can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |